Senyuman Terakhir

“Aku pasti akan merindukanmu. Kamu adalah sahabatku yang pertama dan terakhir. Selamat tinggal sobat”

Itulah kata terakhir yang ku dengan langsung dari bibir merahnya, sangat di sayangkan dia pergi begitu saja. Dia tidak sengaja di tembak ayahnya sendiri.

”Karena aku dia meninggalkanku tanpa seijinku. Kenapa harus dia yang tertembak. Kenapa bukan aku saja! Seandainya aku tidak ngegabah untuk ke "rumahnya pasti nggak gini jadinya!”

Penyesalan yang selalu membayangiku saat aku tau dia meninggalkanku…

“akhirnya Chiqua meninggalkan Indonesia dan kembali ke kota kincir angina, Belanda, kota asalnya, meninggalkan Zara,sahabatnya yang telah terlebih dahulu meninggalannya. Dan pada tanggal 1945 akhirnya Indonesia merdeka.Chiqua kembali ke Indonesia bersama ayah dan Ibunya. Chiqua melihat ayah Zara yang tersenyum puas akibat keberhasilannya melawan penjajah. Dan Chiqua meneteskan airmata tepat di makam sahabatnya, Zara. SELESAI” terlihat Hana yang sudah selesai membaca karangannya di depan kelas. Temen-temannya memberikan hadiah tepuk tangan dan senyum pujian untuknya.

wooow! Karanganmu keren banget Na! kapan-kapan kamu buat cerpen yang temanya tentang persahabatan dong.. eh kalo bisa buat novel aja Na, hehehe..” kata teman sebangkunya sambil melihat karangannya

“makasi. Tapi kalau mau buat novel pasti butuh waktu lama. Ntar keburu badmood and critanya jadi rada basi, tapi makasi sarannya” kututurkan senyum manis untuk temanku

Kriiiing…

Bel pulangpun berbunyi dan terdengar satu sekolah. Aku dan teman-temnku yang lain bergegas merapikan buku dan berdoa pulang

☻☻☻

“Assalamualaikum…”

ku buka pintu rumah dan membuka sepatu bergegas ke kamar. Karena hari ini sangat panas, aku menganbil es krim yang masi tersisa di cool case dan membawanya ke kamar.

“alhamdullillah, lega banget rasanya tenggorokan ini!”

Ku buka laptop apple putih kesayanganku itu dan mengaktifkan modem. Eeh, tidak ku sadari ada surat beramplop putih terpampang rapih di meja belajarku. Ku buka perlahan, dan ku ambil surat yang ada di dalam amplop itu.



Text Box: Dear Hana,   Salutare qualcuno, Hana! udah lama nggak surat-suratan lagi. Apa kabar? Oia, masi kenal tulisan aku nggak ya kamu? Hmm.. Gimana ulangannya kemaren Na? lancer-lancar aja kan? Aku harap sih begitu!  Na, bentar lagi kan ulangtahunmu nih, gima kalo kamu ke Jerman aja rayainnya, ketemu Opa sama Oma di sini. Opa sama Oma kangen berat tuh sama kamu, begitu juga aku, bener-bener kangen brat sama leluconmu sama karangan-karanganmu yang so sweet abis itu. Aku harep papa sama bundamu ngijinin ke sini. Ntar kalo kamu jadi ke sini aku bakal ngajak kamu ke suatu tempat permainan yang seruu banget! Rugi loh kalo ke sini nggk ke tempet-tempet yang kreen! Ya sudah lah Na, aku harep kamu di kasi ke sini yah. Salam buat papa dan bundamu ya Na. inget jaga kesehatan, jangan online  trus! (balas suratku ini agar aku tidak kesepian)  Your best friend        Chua J.


Ternyata surat dari sobatku yang harus pindah ku Jerman karena tutuntutan pekerjaan ayahnya. Buru-buru aku ambil selembar kertas dan menulis balasan surat dari sobatku itu.

Barusaja aku meletakan ujung bolfoin itu I kertas, tiba-tiba saja terdengar lagu Lady GaGa & florida – strarstruck yang ternyata ring tone handphone ku. Kulihat ternyata dari Bunda, “ada apa ya bunda nelpon, tumben-tumbennya?”. Dan aku angkat

“assalamuaikum mbak, nanti ke rumah sakit ya, jagain nenek. Sakitnya kumat lagi! Inget ya, sekalian mampir sebentar ke rumah nenek ambilin bajunya!” pinta bundaku yang sepertinya sedang terburu-buru

“iya bun. Nanti aku ke sana sama Pak Ujang mumpung masi di sini nih”ku jawab santai

“yaudah, beres-beres sana! Bunda masi ada urusan. Nanti bunda nyusul ke rumah sakit. Salam bunda buat nenek ya, assalamuaikum” dengan sigap bunda mengakhiri pembicaraan

“hmm.. wa’alaikum salam”

Akhirnya aku menahan dulu balasan suratnya, aku melanjutkan tugas dari bunda. Ku bereskan semua yang di butuhin nenek dan akupun membereskan kebutuhanku yang membuatkubetah di rumah sakit nanti.

“oke, udah siap semua, tinggal panggil PAK UJANG!!” teriakku saat aku memanggil sopir yang sebelum aku lahir sudah bekerja mengantar jemput bunda atau aku.

“iya non, sebentar!”sambil berlari

“ada apa non?” tertatih-tatih perkataannya iya ucapkan.

“hehe, anterin ke rumah sakit. Eeh, ke rumah nenek dulu baru ke rumah sakit. Nenek masuk rumah sakit kata bunda, makanya di suruh ambil perlengapan nenek dulu”dengan panjang lebar ku jelaskan semua.

“oh, oke.. oke non, ayook”

☻☻☻

Akhirnya sampe di rumah nenek, terlihat bunda membawa tas besar, ntah apa isinya. Yang jelas mungkin perlengkapan nenek untuk di bawa ke rumah sakit.

“bunda? Kok ada di sini, Hana kira bunda lagi kerja”heranku melihat bunda yang sudah terlebih dahulu berada di rumah nenek

“bunda udah ngijin tadi, makanya bunda langsung ke sini. Udah ah, kelamaan ngoblorol. Lanjutinnya di mobil aja ya” pinta bunda dengan tergesa-gesa menuju mobil

Sepanjang perjalanan aku membuka note book milik bunda dan aku membuat karangan. Dan tak terasa akhirnya sampai juga di rumah sakit tempat nenekku di rawat.

Sesampainya di kamar tempat nenek di rawat aku melanjutkan untuk menulis balasan surat dari sahabatku, Chua. Akhirnya aku bisa membalas surat itu juga setelah beberapa jam tertunda.



Text Box: Dear Chua,  Aaa! Chua, aku baik-baik aja di sini! Gimana keadaanmu? Aku kangen banget sama kamu Chua. Oma sama Opa baik-baik jugak kan? Aku harap kalian sehat smua Oia ya, bentar lagi aku ultah, tapi mau gimana ya, nenek lagi sakit. Penyekitnya kambuh lagi, dan alhasil aku harus jagain nenek di sini. Maaf ya sebelumnya, tapi aku janji kapan-kapan aku pasti ke Jerman bareng papa dan bunda. Inget ya kamu harus kasi aku kado pas aku ultah nanti, jangan lupa! Hehe, bercanda kok, peace! Aku harap kamu nggak kecewa dengan keutusanku ini ya. I miss you!  Love you, my best friend      Hana Soedhra


Aku memandangi sekilas pesan yang ku tulis untuk Chua. Aku membacanya kembali.aku langsung membicarakannya kepada bunda. Dan tentu saja tak lupa mengeposkan surat ini.

Setelah ku bicarakan dengan bunda, bunda langsung mengangguk setuju atas keputusanku ini. Segera ku telpon Pak Ujang untuk mngirimkan surat manis ini ke kantor pos terdekat. Semoga saja Chua tidak kecewa atas keputusanku ini.

☻☻☻

Keesokan harinya ku lihat matahari sudah melaksanakan tugasnya untuk menyinari kotaku dan kota-kota yang lain. Tetapi saat itu tidak ku lihat sosok nenek di ranjang sambil memakai infuse dan begitu juga dengan bunda. Tiba-tiba terdengar bunyi handphone bunda, segera ku angkat. Ternyata dari omaku di Jerman menelfon.

“assalamuaikum…”ucap oma

“waalaiku salam oma. Apa kabar? Aku kangen oma!”dengan cepat aku mengatakannya

“Hana? astagaa! Oma baik-baik saja sayang. Kemana bundamu nak?” terdengar oma tidak bersemangat

“oma kenapa? Kok kayaknya oma sedih banget” khawatirku

“oma senang bisa ngomong sama kamu, Na. oma kangen banget sama kalian. Oma.. oma.. “tiba-tiba oma terdiam, ntah kenapa

“oma? Oma kenapa? Oma? Oma? Halooo?” ucapku panic

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiit…

“kok mati ya? Kenapa sih ini? Aku berbicara pelan dan heran. Dalam benakku mungkin di sana siayalnya jelek. Akhirnya aku telpon lagi, eeh.. tapi keburu ada telepon masuk.

“haloo, assalamualaikum?” ucapku

“wa’alaikum salam, Hana ini opa. Omamu pingsan, nanti opa telpon lagi ya. Assalamualaikum Na” pas banget saat opa mengakhiri pembicaraannya nenek dan bunda datang. Ntah habis darimana mereka. Dan alngsung saja aku menceritakan panjang lebar semua yang barusan saja terjadi. Dengan hebohnya tak terasa airmataku terjatuh.

☻☻☻

“hah?! Kok bisa? Kebetulan nenek sudah boleh pulang, jadi besok kita berangkat jenguk oma, telpon papah kalo mau ikut. Bunda mau mengurus biaya administrasi dulu. Suru Pak Ujang angkatin barang-barang nenek”dengan tergesa-gesa bunda langsung keluar kamar rumah sakit tersebut.

Akhirnya aku, nenek, dan bunda meninggalkan rumah sakit itu dan berbegas menuju ke rumah nenek untuk mengentarkan nenek.

☻☻☻

Keesokan harinya aku bersip-siap untuk pergi ke bandara. Aku sangat khawatir engan keadaan oma yang tiba-tiba pingsan kemarin. Aku dan bunda bergegas ke bandara. Papa hanya titipsalam untuk oma dan opa karena papa sekarang lagi di yogyakarta, ada urusan yang harus di delesaikan. Dan terpaksa aku dan bunda hanya berdua pergi ke Jerman.

☻☻☻

Sesampainya di Jerman aku langsung menuju rumah skit tempat oma di rawat. Baru saja aku sampai di lobby opa sudah terlihat, dan aku langsung menuju kamar tempat oma di rawat. Disitu ada Chua dan bundanya. Barusaja aku memegang tangan oma, aku melihat senyumnya dan tiba-tiba oma nggak bernafas lagi! Airmataku tiba-tiba menetes. Tak bisa di percaya oma begitu cepat meninggalkan aku, padahal besok adalah hari ulangtahunku yang ke 14 tahun. Oma pernah berjanji bakalan kasi aku syal yang di buatnya khusus buat aku. Tapi ternyata itu semua hanya kenangannya.

☻☻☻

“senyum terakhirnya” itulah kado yang terindah yang di beri oleh omaku. Walaupun aku tau oma sudah meninggalkan aku, tapi aku merasa oma selalu ada di sampingku. Aku berharap oma bisa melihatku di umurku yang ke 14 ini. Oma, I LOVE YOU!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

0 komentar:

Posting Komentar