BINTANG
Namanya Moza
Ia mendengar Mama dan Ega sedang tertawa ria di
Angin pantai berhembus menerpa wajah Moza dan membelai rambutnya yang indah. Moza menutup mata, merasakan senssi angina pantai yang eksotis. Ia melayang dalam dunia sendiri. Neverland yang ia buat hanya untuk dirinya. Dia selalu berangan-angan mempunyai seorang kakak yang akan selalu menjaganya. Tapi, apa? Itu hanya ada dalam khayalannya.
Dan khayalan itu semu.
“Moza! Sini, donk! Bantuin Mama sama Ega buat istana pasir! Biar istananya lebih gede lagi!” suara wanita setengah baya biasa Moza panggil Mama itu membuyarkan semua khayalan. Moza menghela napas, lalu menuruti permintaan mamanya untuk ikut membuat istana pasir mereka
&&&
Desiran ombak pantai, menenangkan
Angina pantai, menyenanangkan
Tapi, kenapa aku terusik?
Moza menyisipkan rambut ke balik teliunganya. Setelah pulang dari pantai tadi, ia langsung mengerjakan pekerjaan yang tidak begitu berarti. Menatap layer laptopnya berjam-jam. Ia terlihat sangat sibuk, padahal yang dilakukannya hanyalah main Diner Dash 4, terobsesi untuk manamatkannya hari ini juga.
Sore telah berganti malam. Mamah berseru menyuruhnya salat Magrib dan makan malam bersama.
Saat melihat mata Moza yang memerah, Mamah mencak-mencak memarahinya. Padahal, Mama selalu mengingatkannya kalu mata moza itu sangat sensitif.
“Ma, minggu depan jalan, yuk.. aku pingin blanja..”
“aduh, maaf ya, Say. Mama nggak bisa, Mama mau nemenin Ega nonton DVD The Simpsons di Darmawangsa…”
Moza mendesah. Kesal. Dilirihkannya pemuda yang berada di sebelahnya, yang sekarang sedang asyik melahap makanan buatan si Mbok tanpa ampun.
Lagi-lagi hatinya terusik. Dan perasaan seolah dihantam palu bergerigi tajam. Sakit.
Tak dipungkiri lagi. Moza iri. Ya, dia sangat iri dengan kakaknya itu.
Ega yang selalu menjadi bintang untuk mamah dan almarhum ayah mereka. Itu karena dulu Ega adalah anak tunggal! Beda umur yang sangat jauh antara Egad dan Moza, yaitu sepuluh tahun, menyebabkan ini smua terjadi. Dulu, Mama pernah bercerita kalau Ega itu senang sekali dimanja, ia senang sekali bisa menjadi bintang yang bersinar untuk kedua orang tuanya, tetapi out dulu… sebelum Moza lahir. Saat Moza lahir, Ega merasa terpukul sehungga menjadi kekanak-kanakan seperti sekarang ini. Sifatnya menjadi bertolak belakang dengan umurnya, seakan membuat posisi kakak-adik dirumah itu terbalik. Ega seorang kakak bertingkah sebagai seorang adik sementara Moza, adiknya, terpuruk dalam rasa iri yang semakin mendekap dihatinya.
Makanan penutup telah dihidangkan. Biasanya Mama akan menyediakan makanan favorit Moza, puding cokelat dan brownies. Namun, kali ini, Mama hanya menyediakanpuding coklat saja, soalnya Mama hanya menyediakan saja, soalnya Mama terlalucapek dan nggak sempet lagi bikin brownies.
Kenapa, sih, slalu karena Ega? Selalu membuat Mama capek dan nggak punya waktu lagi untukku? Memangnya aku salah apa hingga dia mau semua kasih sayang Mama hanya untuk dia? Aku juga butuh kasih sayang Mama, Ga…
&&&
Hari minggu. Pagi ini, Egad an Gina, tetangga sebelah rumahnya, sedang bermain di halaman depan rumah. Mereka bercanda. Tawa mereka terdengar sampai telinga Moza yang sedang membaca novel di balkon kamarnya.
Moza diam. Ia tertegun. Ia menyadari satu hal yang embuatnya sangat sakit selama ini. Sebenarnya, diam-diam, ia telah menyadari dari dulu. Tapi baru sekarang ia benar-benar menyadarinya.
Matanya menangkap Mama sedang membawakan dua gelas es jeruk dan brownies untuk mereka, Egad an Gina
Moza tersenyum pahit.
Tuh
“Apaan sih Ga?” sahut Moza kesal saat membuka pintu yang dari tadi di ketuk. Dia semakin kesal saat tau Ega-lah yang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Ega Cuma….mau…ngasih ini. Brownies buat Moza.. maaf ya, ganggu…,” ucapan seperti anak kecil. Moza menerima sepiring brownies dari tangan Ega, kemudian langsung menutup pintu kamarnya.
Selang beberapa menit, pintunya kembali diketuk. Moza menatap Ega dengan tatapan paling mematikan.
“eeeeeeeng… ini skalian... es jeruknya, Ega yang buatin…..”
“makasih…”
BRAK!
&&&
Moza menyeka peluh di dahinya, membuka sepatu, kemudian merebahkan badannya di sofa. Badannya penuh dengan kringat, ia baru saja pulang bermain boa basket di lapangan kompleks. Di hadapannya, sudah ada segelas es jeruk dan secarik kertas.
Buat Moza, ini supaya bikin kamu seger
Dari Ega.
&&&
”Itu kenapa rok kamu?
“nggak knapa-napa, Bu….”
“Kalau kamu pakai rok sependek itu kamu harus punya alas an yang tepat dan masuk akal untuk saya….”
“Satu-satunya alas an saya, karena saya lagi pingin, Bu… saya nggak punya alas an lain…”
“Baik, sekarang kamu ke ruang Bu Ima, siapa tau dia punya rok yang lebih panjang dari itu, ganti rok kamu!”
“Yah, Bu…. Jangan gitu dong….
“MOZA!”
Moza langsung tancap gas. Ia kabur dari cengkraman Bu Dina Wajah Bu Dina seperti sudah menyantap sarapan paginya.
&&&
Tuk!
Sebatang spidol mampir di kepala Moza. Moza menoleh karena kaget
“Jangan ngobrol Moza!”
Moza malah tertawa terkikik.
“MOZA!”
“Hmmpphh…”
Ia dan teman kejahatannya yang tak lain adalah teman sebangkunya, berusaha menahan tawa mereka.
“MOZA! DIAM ATAU KLUAR!”
Moza dan teman sebangkunya benar-benar berhenti tertawa sekarang. Tampang mereka berdua seperti bayi baru lahir, dibuat sepolos mungkin, berlagak tak bersalah.
“Sudah berapa kali kamu ditegur hari ini, hah?!” Tanya guru bahasa Indonesianya itu.
“Ehem, kurang lebih empat kali Bu..” jawab moza polos. Anak-anak sekelas tertawa.
&&&
Moza berdemo. Moza menuntut keadilan dari mamanya. Moza menuntut agar Mama memperhatikannya juga. Dengan cara seperti di sekolah tadi. Ia tak henti-hentinya membuat masalah. Guru-guru juga sudah mengeram kesal, anak yang kadar kenakalannya ‘sedang-sedang saja’ itu menjadi kadar ‘anak nakal yang sempurna’
“Kenapa tadi di sekolah?” Tanya Mama menginterogasi Moza begitu ia menginjakan kakinya dirumah.
“Mama, bukannya anaknya pulang disambut…”
“Moza!”
“Nggak kenapa-napa kok MA? Kenapa si?”
“Kamu tanya kenapa, MOza? Kamu mau bohong sama Mama?”
“……”
“Ngapain pake rok sependek itu?! Kamu mau sok seksi?! Hah?!”
“……”
“Terus kenapa tadi belajarnya nggak srius? Kenapa bercanda terus? Udah bosen sekolah kamu?!”
Moza mengalihkan pandangannnya kea rah lain.
Ega tersenyum kepadanya. Kemudian, menunjukan sebuah gambar orang yang sedah tersenyum.
“Hey! Moza! Mama belum selesai bicara!”
&&&
Perasaan itu terus mencengkram,
Menyebarkan cairan hitam di hatinya.
Setelah kejadian itu. Mama masih menomorsatukan Ega. Ega tetap menjadi bintang Mama yang paling bersinar. Dan, karena keandelannya do sekolah. Moza harus menerima kosekwensinya. Ia dicuekin oleh Mama.
Moza sudah tak tahan lagi, ia capek.
Moza menghampiri Mama yang sedang membelai rambut Ega. Ega sedang bermain play station di ruang keluarga.
“Kenapa harus Ega sih, Ma?”
Permula yang buruk.
“Kamu kenapa?”
“Kenapa selalu Ega yang jadi bintang Mama? Kenapa, Ma?”
“……”
“Ma, Papa udah pergi ninggalin Moza, kenapa sekarang Mama pelan-pelan mau ninggalin Moza juga?”
“Bukannya gitu, Mo…”
“Ma, MOza masih butuh Mama! Moza masih butuh perhatian Mama!”
“……”
“Moza iri sama Ega! Moza capek! Moza capek harus iri sama bintangnya Mama itu!” Moza menekankan suaranya di kata ‘bintang’. Air matanya mengucur deras, ia sudah tak dapat membendungnya lagi. Emosi meledak-ledak.
Moza berlari ke luar rumah, keluar kompleks, berlari dan terus berlari. Tanpa ia sadar, di belakanya, Ega, ikut menyusulnya.
“Moza! Tunggu Ega!”
Moza berlari menyebrang jalan.
BRAK! Moza membalikkan badannya. Dilihatnya orang-orang berkerumunan di tengah jalan.
“Ega…,” bisiknya pelan. Ia berlari menerobos kerumunan itu. Ia menutup mulut dengan tangan, air matanya tambah deras. Sangat deras.
&&&
Mama menangis di samping pusara. Moza lebih terisak lagi. Ditatapnya nama yang berada di ukiran kayu itu “Egario Bintang Pratama.” Ega baru saja dimakamkan pagi ini. Kecelakaan itu harus membuat Ega pergi. Pergi……
Mama memeluk Moza. Hangat. Moza benar-benar bisa merasakan kasih sayang Mama padanya. Rasa sayang Mama tidah hanya untuk Ega! Tapi, juga untuk Moza!
Mama mengecup keningnya.
“Maafin Moza Ma… Moza salah…”
“ssst…. Mungkin ini yang terbaik buat Ega…”
“Tapi kalo Moza nggak lari saat itu, Ega nggak bakalan ketabrak
Ma!”
“Ssstt…”
“Moza ngebunuh Ega! Moza yang ngebunuh Ega!
“Moza… Moza… Sssstt… Mama nggak suka kamu ngomong gitu……”
“Ma, Moza…”
“Ega sayang banget sama kamu, Za… Akhir-akhir ini, dia sangat perhatian saa kamu, dia sudah bisa menerima seorang adik dalam hidupnya. Tapi, kekanak-kanakkannya itu susah untuk hilang…”
“Ma… Moza salah iri sama Ega…”
“Ega sayang Moza…”
“……”
“Mama tau, Moza pasti sayang banget sama Ega, ya,
Moza mengangguk pelan.
“Baca, Za……”
Mama memberikan secarik kertas berwarna kuning terang
Ega coba untuk mengerti Moza. Ega mengerti Moza nggak suka sama Ega. Tapi Ega suka sekali sama Moza. Moza… Dia manis, apalagi kalo senyum.. Ega suka senyumnya Moza.. Ega suka punya adik seperti Moza, main sama Gina seperti Ega lagi main sama Moza, seandainya saja Gina itu adalah Moza. Moza… Ega sayang Moza
Moza makin terisik. Perih. Perih sekali menerima kenyataan orang yang ia sayang pergi meninggalkannya begitu saja, tanpa minta izin. Bahkan, Moza belum sempat mengucapkan kata maaf karea sikapnya yang kasar selama ini…
Ega…
&&&
Mama dan Moza berdiri di pinggir pantai. Tempat mereka terakhir kali berkunjung bersama Ega dan membuat istana pasir bersama.
Angin membelai lembut rambut Moza, membuat rambutnya berkibar indah.
Moza menggenggam kertas berbentuk bintang di tangannya, ia genggam dengan erat. Seakan ia tak mai melepasnya lagi. Bintangnya…. Kakanya…. Ega…
Dia sudah bisa menerima seorang adik dalam hidupnya
Ega suka punya adik seperti Moza
Ega sayang Moza…
Kakakku adalah eorang anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa.
Moza memejamkan matanya sejenak, merasakan angin pantai menerpa wajahnya.
Moza juga sayang Ega…. Sayang banget….
Moza membuka matanya, ia membuka genggaman tangannya.
Perlaha, kertas berbentuk bintang itu terbang terbawa angina.
Terbang.
Jauh.
Selamat tinggal Ega…
Maaf.
Terimakasih sudah membuka mataku tentang kamu.
Tentang kasih sayang…
Aku sayang kamu, kak Ega.
















